8:35 PM

[Friend-zone] Ombak dan Matahari Senja

by , in
  
Deburan ombak menjadi teman bicara dan angin pantai menjadi penyejuk gerah yang melanda. Karenina namaku, biasa dipanggil Karen. Aku sedang menikmati deburan ombak dan angin pantai yang membelai rambut dan wajahku. Ingatanku kembali ke cerita lima tahun yang lalu di pantai yang sama.

Lima tahun yang lalu…

Aku baru saja kembali dari berjalan-jalan di mal dekat pantai ini bersama temanku Dewi. Kedua temanku yang lain, Aldrian, dan Sony masih duduk anteng menunggu di kafe. Setibanya di kafe aku melihat ada seseorang yang duduk di kursi yang sebelumnya aku tempati dan dia ternyata adalah teman Aldrian. Kami pun berkenalan. Namanya Randy. Dan ia akan bergabung bersama kami jalan-jalan ke Dufan esok harinya.

Hari itu adalah hari yang menyenangkan seharian kami menjerit-jerit dan tertawa-tawa mencoba menaiki semua wahana yang ada memuaskan diri dengan semua permainan yang ada. Bahkan kami juga menyempatkan diri melihat berbagai pertunjukan musikal. Malamnya kami terkapar kelelahan, kami berkumpul di tepi pantai dan melanjutkan obrolan sambil mendengarkan musik.

Di tengah gemuruh ombak, melantunlah Akad yang dinyanyikan oleh Payung Teduh. Tanpa sadar aku berseru pada Aldrian,” Duh Al, aku pengen deh dinyanyiin lagu ini sama cowok. Sedih ya aku gak pernah dinyanyiin lagu sama cowok di usia yang hampir dekat kepala tiga.”

"Sini aku yang nyanyiin buat cece.” Dari arah belakang Randy menyeletuk sambil mengambil gitar. Ia mengotak-atik gitar dan mempelajari lagu itu. Aku membantunya mencari chord gitar agar dia lebih mudah belajar.

Setengah jam berlalu. Petikan gitar pun mulai mengalun dari tangan Randy. Spontan aku menyalakan ponselku dan merekam momen itu.

Sudilah kau temani diriku

Sudilah kau menjadi temanku

Sudilah kau menjadi istriku

Randy menyanyikan tiga baris terakhir lagu tersebut sambil menatap kamera dan itu menyebabkan desiran-desiran halus mulai merambah ke relung hati seolah dia menyanyikan lagu itu sambil menatapku langsung. Cepat-cepat aku membuang desiran-desiran halus itu dan menetralkan perasaanku karena biasanya desiran halus itu tidak pernah berakhir baik. Aku harus menjaga hatiku dengan baik agar tidak terluka dan hancur berkeping-keping lagi. Kulewati tidur di malam itu dengan jantung yang berdebar kencang tiada henti.

Malam itu aku mengingat kembali momen di pantai saat aku dan Randy mengobrol dan bercanda layaknya teman yang sudah lama tidak bersua padahal aku baru mengenalnya dua hari yang lalu. Pembicaraan kami meluncur dengan mulusnya tanpa kesulitan komunikasi sedikitpun seolah kami tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.

Momen kebersamaan kami beberapa bulan setelahnya terus terputar seperti film bioskop dan aku termenung cukup lama sambil menikmati suasana pantai sore itu. Tiba- tiba ada yang menepuk pundakku dan aku pun menoleh hanya untuk melihat Randy yang berdiri gagah di bawah pancaran matahari senja.

“Hai Karen.”

“Hai.”

Setelah saling menyapa, kami hanya terdiam sambil saling menatap satu sama lain, seolah sedang mencari kenangan masa lalu yang terlupakan. Namun akhirnya Randy bersuara memecah keheningan di antara kami.

“Ini titipan yang kamu minta.”

Aku mengambil bungkusan yang diserahkan Randy dan melihat isinya, sesuai dengan apa yang aku pesan. "Terima kasih," ujarku menyunggingkan senyum.

“Papaaaaa!!"

Terdengar teriakan disusul bayangan seorang anak kecil yang menghampiri Randy. Seorang wanita berambut panjang menyusul anak kecil tersebut hingga ke hadapan Randy. Randy pun menggendong anak lelaki itu dan mengenalkannya sebagai anak laki-laki semata wayangnya. Randy juga mengenalkan wanita yang menyusul di belakang tadi sebagai istrinya. Mereka mengajakku untuk makan malam bersama namun kutolak dengan halus. Mereka pun pergi meninggalkan pantai itu dan aku hanya bisa memandang punggung mereka ditemani matahari senja.

Aku sudah tahu bahwa Randy telah berkeluarga tiga tahun yang lalu namun aku tidak percaya dan ingin membuktikan sendiri. Pembuktianku menghasilkan air mata yang terus mengalir seiring hilangnya bayangan punggung mereka dari hadapanku ditemani matahari senja.

 
Cerita telah diterbitkan di LINE TODAY dan diikutkan dalam LINE TODAY Writing Contest July 2019: Friend-zone
12:00 PM

Tunggu Apa Lagi oleh Lalahuta

by , in
 
Artis : Lalahuta
Dirilis : 2018
Genre : Pop
Nominasi : AMI Award untuk Duo/Grup/Vokal Grup/Kolaborasi Pop Terbaik 


Jangan kau bohongi hatimu
Jelas kau ingin aku
Percuma punya wajah yang merdu
Bila dia tak mampu melukiskan senyummu

Izinkan ku isi harimu
Usir mendung kelabu
Percuma punya tampang yang syahdu
Bila dia tak mampu melukiskan senyummu

Oh tunggu apalagi sayang
Tinggalkanlah dirinya
Kan ku buat hari-harimu bahagia

Oh tunggu apalagi sayang
Ku lebih baik darinya
Tak akan ada lagi tangis air mata

Buang apa kau buang waktu (ku buang waktumu)
Dalam kisah yang semua
Izinkanlah ku cumbu hatimu
Dan merangkai cinta ooh

Oh tunggu apalagi sayang, tinggalkanlah dirinya
Kan ku buat hari-harimu bahagia
Lalu tunggu apalagi sayang, ku lebih baik darinya
Tak akan ada lagi tangis air mata

Bukakanlah pintu hatimu, dara
Izinkanlah ku ketuk asmara
Kan ku ubah sedihmu jadi bahagia ooh

Oh tunggu apalagi sayang, tinggalkanlah dirinya
Kan ku buat hari-harimu penuh bahagia
Tunggu apalagi sayang, ku lebih baik darinya
Tak akan ada lagi tangis air mata

Tak akan ada lagi tangis air mata
(kan ku buat harimu bahagia) hari-harimu bahagia
(tunggu apalagi sayang, tunggu apalagi dara)
Kan ku buat harimu bahagia
11:00 AM

Bintang Kehidupan oleh Nike Ardilla

by , in

Tanggal rilis : 1 Desember 1989

Jenuh aku mendengar
Manisnya kata cinta
Lebih baik sendiri

Bukannya sekali
Seringku mencoba
Namun kugagal lagi

Mungkin nasib ini
Suratan tanganku
Harus tabah menjalani

Jauh sudah melangkah
Menyusuri hidupku
Yang penuh tanda tanya

Kadang hati bimbang
Menentukan sikapku
Tiada tempat mengadu

Hanya iman di dada
Yang membuatku mampu
Slalu tabah menjalani

Malam malam aku sendiri
Tanpa cintamu lagi oh..oh ho..ho
Hanya satu keyakinanku
Bintang kan bersinar
Menerpa hidupku
Bahagia kan datang ..oh oh